Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Di Tangan-Tangan yang Mendoakan

Sore menjelang maghrib. Karpet sudah digelar, kursi-kursi disusun rapi, dan aroma teh manis mulai menyebar dari dapur. Di ruang tengah, tamu mulai berdatangan. Sebagian langsung duduk, sebagian lagi menyalami keluarga sambil berbisik pelan, “Semoga almarhum husnul khatimah, ya.” Suasana khidmat, tenang, dan penuh haru.

Di hadapan setiap tamu, telah diletakkan sebuah buku Yasin. Sampulnya sederhana tapi bersih dan elegan. Ada nama almarhum di bagian depan, bersama tanggal wafat, serta kutipan doa pendek. Buku itu kemudian dibuka bersamaan saat imam memulai bacaan. Suara lantunan Yasin menggema pelan, serentak, satu nada—mengalir dari halaman ke halaman, dari hati ke langit.

Tak banyak yang bicara. Tapi dari raut wajah setiap orang, tampak bahwa buku kecil itu bukan benda biasa. Ia jadi pengantar doa, jadi pengikat suasana, jadi cara paling hening untuk mengenang seseorang yang pernah sangat berarti. Di sela surat-surat pendek dan doa tahlil, beberapa orang meneteskan air mata. Tidak karena sedih semata, tapi karena rasa syukur: mereka bisa hadir, membaca, dan mendoakan.

Setelah acara selesai, banyak tamu membawa pulang bukunya. Sebagian menyimpannya di ruang tamu, sebagian lagi meletakkannya di lemari kecil tempat mereka biasa shalat. Mereka bilang, “Kami akan terus membacanya, insyaAllah.” Dan begitulah, doa itu pun terus mengalir—melalui halaman yang terbuka, melalui tangan yang membacanya, melalui hati yang tak pernah lupa. Buku Yasin itu pun menjadi perpanjangan dari kasih yang tidak terputus oleh kematian.

Yasin Pekanbaru

---------------------------------------------------------
KUNJUNGI WEBSITE INDUK >>ARBIWEBSHOP<<
#PercetakanAntiRibet #OrderOnlineAja #PesanDariRumah
Untuk Info dan Pemesanan Silahkan Klik >> Admin Online<<
Kunjungi Channel : ARBI PRINTING - Kunjungi Instagram : ARBIPRINTINGPKU


Posting Komentar untuk "Di Tangan-Tangan yang Mendoakan"