Ketika Rindu Tak Bisa Bicara, Doa Menjawabnya
Tidak ada yang benar-benar siap kehilangan. Meski kita tahu bahwa hidup tak abadi, kepergian orang yang kita cintai tetap menyisakan ruang yang tak tergantikan. Saat itu terjadi dalam keluarga kami, suasana berubah menjadi hening dan berat. Hari-hari berlalu dengan pelan, dan di sela tangis serta diam, kami mencari cara untuk terus merawat ingatan tentangnya—bukan dengan berlebihan, tapi dengan sederhana: lewat doa. Maka, kami pun memesan buku Yasin, sesuatu yang awalnya terasa biasa, namun kemudian menjadi salah satu hal paling berarti dalam masa duka itu.
Ketika buku itu tiba, kami membukanya perlahan. Di halaman awal tertulis namanya, tanggal kelahiran dan wafat, serta ucapan terima kasih yang sederhana untuk semua yang turut mendoakan. Ada fotonya yang tersenyum kecil di pojok kanan atas. Tidak ada kemewahan, hanya kesederhanaan yang tulus. Tapi kami tahu, ini bukan sekadar buku. Ini adalah caranya untuk tetap hadir, melalui setiap huruf yang dibaca dengan pelan, setiap ayat yang mengalir dari bibir mereka yang membacanya. Di tahlilan malam itu, suara bacaan Yasin menggema—dan rasanya seperti kami sedang berbicara padanya lagi, meski dalam bentuk yang berbeda.
Kami tidak mencetak dalam jumlah banyak, hanya cukup untuk keluarga dekat dan beberapa teman. Namun kami mencetak dengan hati. Kami memilih desain yang lembut, huruf yang jelas, dan ukuran yang nyaman dibaca siapa pun. Beberapa buku bahkan kami simpan, dan sampai sekarang sesekali dibuka kembali, dibaca di malam Jumat, atau saat hati sedang ingin merasa dekat. Anehnya, meski halaman-halamannya tak pernah berubah, rasa saat membacanya bisa berbeda-beda. Kadang menguatkan, kadang mengingatkan, dan kadang sekadar membawa rindu yang tak bisa dijelaskan.
Sejak saat itu, saya memahami bahwa buku Yasin bukan hanya barang pelengkap dalam acara duka. Ia adalah wadah untuk melanjutkan cinta dalam bentuk paling sunyi: doa. Ia bukan hanya tentang mengingat, tapi tentang menyambung hubungan yang tidak lagi bisa dijalin lewat percakapan biasa. Dalam setiap kalimatnya, ada ketenangan. Dalam setiap baris doa, ada harapan. Dan dalam kehadirannya, ada bukti bahwa meski seseorang telah tiada, namanya tetap hidup—dalam zikir, dalam kenangan, dan dalam hati orang-orang yang mencintainya.
---------------------------------------------------------------

Posting Komentar untuk "Ketika Rindu Tak Bisa Bicara, Doa Menjawabnya"